- Ingkaran
atau Negasi
Dari sebuah
pernyataan tunggal (atau majemuk), kita bisa membuat sebuah pernyataan baru
berupa “ingkaran” dari pernyataan itu. “ingkaran” disebut juga “negasi” atau
“penyangkalan”. Ingkaran menggunakan operasi uner (monar) “” atau “”.
Jika suatu
pernyataan p benar, maka negasinya p salah, dan jika sebaliknya pernyataan p
salah, maka negasinya p benar.
Perhatikan
cara membuat ingkaran dari sebuah pernyataan serta menentukan nilai
kebenarannya!
1. p
: kayu memuai bila dipanaskan (S)
~ p
: kayu tidak memuai bila dipanaskan (B)
2. r
: 3 bilangan positif (B)
~ r
: (cara mengingkar seperti ini salah)
3 bilangan
negative
(Seharusnya) 3
bukan bilangan positif (S)
Nilai kebenaran
Jika p suatu
pernyataan benilai benar, maka ~p bernilai salah dan sebaliknya jika p
bernilai salah maka ~p bernilai benar.
Tabel kebenaran:
2.
Konjungsi
Gabungan
dua pernyataan tunggal yang menggunakan kata
penghubung “dan” sehingga terbentuk pernyataan
majemuk disebut konjungsi. Konjungsi mempunyai kemiripan dengan operasi
irisan () pada himpunan. Sehingga sifat-sifat
irisan dapat digunakan untuk mempelajari bagian
ini.
Operasi
konjungsi sering juga ditunjukkan dengan hubungan seri pada rangkaian listrik
seperti gambar berikut:
Gambar rangkaian seri
Dari gambar
rangkaian diatas menggunakan saklar symbol saklar 1 diberi symbol p dan saklar
2 diberi symbol q. Saklar terbuka (off) sebagai pernyataan benar, saklar
tertutup (on) sebagai pernyataan salah. Lampu yang dipasang pada rangkaian
sebagai kebenaran dari pernyataan tersebut.
- Jika
saklar p dan q tertutup (on) ternyata lampu menyala maka pernyataan
bernilai benar
- Jika
salah satu saklar p atau q terbuka (off) ternyatalampu tidak menyala maka
pernyataan bernilai salah.
- Jika
keduanya saklar p dan q terbuka (off) ternyata lampu juga tidak menyala,
maka pernyataan bernilai salah.
Berdasar kasus
di atas, dapat disimpulkan bahwa suatu konjungsi p ∧ q pada lampu akan menyala hanya jika komponen-komponennya, yaitu baik p maupun
q, keduanya sama-sama tertutup sedangkan nilai kebenaran yang selain itu tidak
menyala sebagaimana ditunjukkan pada tabel kebenaran berikut:
Tabel Kebenaran Konjungsi
Contoh
Tentukan nilai
kebenaran dari pernyataan majemuk pq berikut ini!
a. p
: 100 + 500 = 800
q
: 4 adalah faktor dari 12
b.
p : Pulau Bali dikenal sebagai
pulau Dewata
q
: 625 adalah bilangan kuadrat
Jawaban:
a.
p salah, q benar
b.
(p) = B, (q) = B.
bilangan
kuadrat (benar).
3. Disjungsi
Disjungsi
adalah proposisi majemuk yang menggunakan perangkai “atau”.
Poposisi
“p atau q” dinotasikan q
p.
Tidak seperti pernyataan berperangkai “dan” yang
mempersyaratkan terpenuhinya kebenaran semua
unsurnya, pernyataan berperangkai “atau” menawarkan
suatu pilihan, artinya jika paling tidak salah satu
dari kedua unsur proposisinya terpenuhi maka hal ini sudah cukup untuk
pernyataan tersebut dikatakan benar.
Operasi
konjungsi sering juga ditunjukkan dengan hubungan paralel pada rangkaian
listrik seperti gambar berikut :
Gambar Rangkaian Paralel
Dari gambar
rangkaian diatas menggunakan saklar symbol saklar A diberi symbol p dan saklar
B diberi symbol q. Saklar terbuka (off) sebagai pernyataan benar, saklar
tertutup (on) sebagai pernyataan salah. Lampu yang dipasang pada rangkaian
sebagai kebenaran dari pernyataan tersebut.
- Jika
saklar p dan q tertutup (on) ternyata lampu menyala maka pernyataan
bernilai benar
- Jika
salah satu saklar p tertutup (on) dan q terbuka (off), atau jika salah
satu saklar p terbuak (off) dan q tertutup (on) ternyata lampu menyala
maka pernyataan bernilai benar.
- Jika
keduanya saklar p dan q terbuka (off) ternyata lampu juga tidak menyala,
maka pernyataan bernilai salah.
Dari gambar
rangkaian diatas tampak bahwa lampu tidak menyala jika saklar p
maupun q sama-sama terbuka atau keduanya salah. Kita sarikan definisi konjungsi
dengan tabel kebenaran berikut.
Tabel Kebenaran Disjungsi

Contoh
Tentukanlah
nilai kebenaran untuk disjungsi dua pernyataan yang diberikan !
a.
p : 3 + 4 = 12
q : Dua meter
sama dengan 200 cm
b.
p : 29 adalah bilangan prima
q : Bandung
adalah ibu kota Provinsi Jawa Barat
c.
p : Dua garis yang
sejajar mempunyai titik potong
Jawaban:
a. (p) = S, (q) = B.
a. (p) = S, (q) = B.
b.
(p) = B, (q) = B.
Jawa barat (benar).
c.
(p) = S, (q) = S.
4.
Implikasi
Untuk memahami
implikasi, pelajarilah uraian berikut. Misalnya, Elzan berjanji pada Gusrayani,
“Jika Sore nanti tidak hujan, maka saya akan mengajakmu nonton”. Janji Elzan
ini hanyalah berlaku untuk kondisi sore nanti tidak hujan. Akibatnya, jika sore
nanti hujan, tidak ada keharusan bagi Elzan untuk mengajak Gusrayani nonton.
Misalkan sore
ini tidak hujan dan Elzan mengajak Gusrayani nonton, Gusrayani tidak akan
kecewa karena Elzan memenuhi janjinya. Akan tetapi, jika sore ini hujan dan
Elzan tetap mengajak Gusrayani menonton, Gusrayani tentu merasa senang sekali.
Jika sore ini hujan dan Elzan tidak mengajak Gusrayani menonton, tentunya
Gusrayani akan memakluminya. Bagaimana jika sore ini tidak hujan dan Elzan
tidak mengajak Gusrayani menonton? Itu akan lain lagi ceritanya. Tentu saja
Gusrayani akan kecewa dan menganggap Elzan sebagai pembohong yang tidak
menepati janjinya.
Misalkan,
p : Sore tidak hujan.
q : Elzan
mengajak Gusrayani menonton.
Pernyataan
“jika sore nanti tidak hujan, maka Elzan akan mengajak Gusrayani nonton”. Dapat
dinyatakan sebagai “jika p maka q” atau dilambangkan dengan “p
q”. Suatu
pernyataan majemuk dengan bentuk “jika p maka q” disebut implikasi.
Misalkan p dan
q adalah pernyataan. Suatu implikasi (pernyataan bersyarat) adalah suatu
pernyataan majemuk dengan bentuk “jika p maka q”, dilambangkan dengan p
q. Pernyataan p
disebut hipotesis (ada juga yang menamakan anteseden) dari
implikasi. Adapun pernyataan q disebut konklusi (atau kesimpulan,
dan ada juga yang menamakan konsekuen). Implikasi bernilai salah
hanya jika hipotesis p bernilai benar dan konklusi q bernilai salah; untuk
kasus lainnya adalah benar. Perhatikan tabel berikut ini.
Tabel nilai kebenaran operasi implikasi
Terdapat
perbedaan antara implikasi dalam keseharian dan implikasi dalam logika
matematika. Dalam keseharian, pernyataan hipotesis/anteseden p haruslah
memiliki hubungan dengan pernyataan konklusi/konsekuen q. Misalnya, pada
contoh implikasi sebelumnya, “Jika sore nanti tidak hujan maka saya akan
mengajakmu nonton”. Terdapat hubungan sebab-akibat. Dalam logika matematika,
pernyataan hipotesis/anteseden p tidak harus memiliki hubungan dengan
konklusi/konsekuen q. Untuk lebih jelasnya, perhatikan Contoh dibawah ini.
Contoh:
Tentukanlah
nilai kebenaran dari implikasi berikut !
a. Jika 4 + 7
= 10 maka besi adalah benda padat.
b. Jika 6 + 9
= 15 maka besi adalah benda cair.
c. Jika cos
30° = 0,5 maka 25 adalah bilangan ganjil.
Jawab :
a. Jika
4 + 7 = 10 maka besi adalah benda padat.
Alasan salah,
kesimpulan benar. Jadi, implikasi bernilai benar.
b.
Jika 6 + 9 = 15 maka besi adalah benda cair.
Alasan benar,
kesimpulan salah. Jadi implikasi bernilai salah.
c.
Jika cos 30°= 0,5 maka 25 adalah bilangan ganjil.
Alasan
salah, kesimpulan salah. Jadi, implikasi bernilai benar.
5.
Biimplikasi
Perhatikanlah
pernyataan berikut:
Jika sore ini hujan, maka jalan raya basah.
Jika jalan
raya basah, apakah selalu disebabkan oleh hujan? Tentu saja tidak selalu
begitu, karena jalan raya basah bisa saja disebabkan disiram, banjir, ataupun
hal lainnya. Pernyataan seperti ini telah kita ketahui sebagai sebuah
implikasi.
Sekarang,
perhatikan pernyataan berikut:
Jika orang masih hidup maka dia masih bernafas.
Jika seseorang
masih bernafas, apakah bisa dipastikan orang tersebut masih hidup? Ya, karena
jika dia sudah tidak bernafas, pasti orang tersebut sudah meninggal. Pernyataan
yang demikian disebut biimplikasi atau bikondisional atau bersyarat
ganda.
Pernyataan
biimplikasi dilambangkan dengan “” yang berarti “jika dan hanya jika”
disingkat “jhj” atau “jikka”. Biimplikasi “pq” ekuivalen dengan
“jika p maka q dan jika q maka p”, dinotasikan sebagai: (p
q)
(q
p).
Misalkan p dan
q adalah pernyataan. Suatu biimplikasi adalah suatu pernyataan majemuk
dengan bentuk p jika dan hanya jika q dilambangkan dengan p
q. Biimplikasi p
dan q bernilai benar jika keduanya p dan q adalah benar
atau jika keduannya p dan q adalah salah; untuk kasus lainnya
biimplikasi adalah salah.
Tabel Nilai Kebenaran Biimplikasi:
Contoh:
Tentukan nilai
kebenaran biimplikasi di bawah ini!
a. 20 + 7 =
27 jika dan hanya jika 27 bukan bilangan prima.
B
B
b. 2 + 5 =
7 jika dan hanya jika 7 adalah bilangan genap.
c. tan2
45° + cos 2 45° = 2 jika dan hanya jika tan2
45° = 2
6.
Negasi Dari Pernyataan Majemuk
Berikut ini
adalah pembahasan tentang negasi pernyataan majemuk, yaitu negasi suatu
konjungsi, disjungsi, implikasi, dan biimplikasi
- Negasi
Suatu Konjungsi
Karena suatu
konjungsi p ∧ q akan bernilai benar hanya jika kedua komponennya bernilai benar. Maka
negasi suatu konjungsi p ∧ q adalah ~p ∨ ~q;
sebagaimana ditunjukkan tabel kebenaran berikut:
2. Negasi
Suatu Disjungsi
Negasi suatu
disjungsi p ∨ q adalah ~p ∧ ~q
sebagaimana ditunjukkan tabel kebenaran berikut:
3. Negasi
Suatu Implikasi
Negasi suatu
implikasi p ⇒ q adalah p∧~q seperti ditunjukkan
tabel kebenaran berikut ini:
Dengan
demikian, p ⇒ q ≡ ~[~ (p ⇒ q)] ≡ ~( p ∧ ~q) ≡ ~p ∨ q
4. Negasi
Suatu Biimplikasi
Karena
biimplikasi atau bikondisional p ⇔ q ekuivalen dengan
(p ⇒ q) ∧ (q ⇒ p);
sehingga:
~ (p ⇔
q)
≡ ~[(p ⇒ q) ∧ (q ⇒ p)]
≡ ~[(~p ∨ q) ∧ (~q ∨ p)]
≡ ~(~p ∨ q) ∨ ~(~q ∨ p)]
≡ (p ∧ ~q) ∨ (q ∧ ~p)
Tabel
kebenaran dari suatu negasi, konjungsi, disjungsi, implikasi, dan biimplikasi
di atas
merupakan
dasar dalam mencari nilai kebenaran pernyataan-pernyataan majemuk seperti di
saat
menentukan
nilai kebenaran pernyataan majemuk (~p ∧ r) ∨ (~r ⇒ q) seperti
berikut ini
Contoh :









0 komentar:
Post a Comment